Stop Merokok Karena Sarat dengan Mudharat
Kamis, 23 Jul 2009 21:57:20
Pdpersi, Jakarta - Dalam sebatang rokok terkandung kurang lebih 4.000 elemen dan setidaknya 200 di antaranya berbahaya bagi kesehatan manusia. Racun utama pada rokok adalah tar, nikotin, dan karbon monoksida. Itu sebabnya, bagi pemadat rokok sebaiknya berhenti sekarang juga.
Demikian penegasan mantan Menteri Kesehatan Prof Farid Anfasa Meoloek pada peluncuran buku Tembakau: Ancaman Global yang digelar Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) di Jakarta, kemarin.
Imbauan Farid tersebut bukan tanpa sebab. Selain secara kesehatan, merokok bisa mematikan, secara ekonomis merokok juga dapat merugikan. Dia juga memastikan bahwa merokok ditinjau dari aspek kesehatan tidak ada manfaatnya sama sekali.
Unsur yang terkandung dalam rokok, seperti tar, dapat membunuh manusia. Sebab, tar adalah substansi hidrokarbon yang bersifat lengket dan menempel pada paru-paru. Selain itu, dalam rokok terdapat nikotin yang merupakan zat adiktif yang mempengaruhi syaraf dan peredaran darah.
Zat ini bersifat karsinogen, dan mampu memicukanke paru-paru yang mematikan. Di luar tar dan nikotin, terdapat juga karbon monoksida yang merupakan zat yang mengikat hemoglobin dalam darah, membuat darah tidak mampu mengikat oksigen.
Rokok juga meningkatkan risiko kefatalan bagi penderita pneumonia dan gagal jantung, serta tekanan darah tinggi. Farid juga mengharapkan bagi perokok yang mengira merokok dengan kadar nikotin rendah tidak berbahaya adalah keliru.
Sebab, kata Farid, merokok dengan kadar nikotin rendah tidak akan membantu, karena untuk mengikuti kebutuhan akan zat adiktif itu, perokok cenderung menyedot asap rokok secara lebih keras, lebih dalam, dan lebih lama.
“Jadi, sebaiknya Anda berhenti merokok sekarang karena tidak ada manfaatnya,” tegas Farid.
Farid melanjutkan, kini lebih dari 70% dari 60 juta perokok di Indonesia adalah mereka yang berasal dari golongan ekonomi menengah ke bawah.”Ada lingkaran setan antara merokok, kemiskinan, malanutrisi, dan kebodohan. Anak-anak juga menjadi korban. Rokok itu pintu gerbang kehancuran bangsa,” ungkap Farid.
Anggota Pengurus Harian YLKI Tulus Abadi menambahkan, konsumsi rokok di Indonesia kini menduduki peringkat ketiga dunia setelah Tiongkok dan India. Semula Indonesia nomor lima. Tidak heran jika lebih dari 60 juta orang membelanjakan uangnya untuk membeli rokok. Mereka rata-rata menghabiskan 11 batang rokok per hari. Secara nasional belanja bulanan untuk rokok pada keluarga perokok menempati urutan terbesar kedua (9%) setelah beras (12%).
Yang lebih memprihatinkan, kata Tulus, dari Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) tahun 2006, kelompok keluarga miskin terbukti mempunyai proporsi belanja rokok yang lebih besar (12%) dibandingkan kelompok terkaya yang hanya 7%.
”Belanja bulanan rokok pada keluarga miskin tahun 2006 setara dengan 15 kali biaya pendidikan dan sembilan kali biaya kesehatan. Jumlah tersebut setara dengan 17 kali pengeluaran untuk daging, dua kali lipat untuk membeli ikan, serta lima kali lipat untuk beli susu dan telur,” ujar pengurus YLKI itu.
Survei tahun 1999-2003 terhadap lebih dari 175.000 keluarga miskin di perkotaan menunjukkan, tiga dari empat kepala keluarga (78,8%) adalah perokok aktif. Belanja mingguan membeli rokok menempati peringkat tertinggi (22%), jauh lebih besar daripada pengeluaran makanan pokok beras (19%). Sementara itu, pengeluaran untuk telur hanya 3% dan ikan hanya 4%. (izn) |
|