Di Indonesia, Obat yang Mengandung Phenylpropanolamine Aman
Senin, 04 Dec 2000 12:21:37
Pdpersi, Jakarta - Masyarakat Indonesia tak perlu khawatir atas keamanan produk obat yang mengandung
Phenylpropanolamine (PPA). Pasalnya, di Indonesia, PPA hanya digunakan dalam obat flu dan batuk sebagai nasal dekongestan (melapangkan hidung tersumbat). Bukan sebagai obat penekan nafsu makan.
Demikian diungkapkan Direktur Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan Depkes Kesos Drs Sampurno MBA, Jumat (1/12) malam, dalam acara buka puasa bersama di kediaman Menkes Kesos Dr Achmad Sujudi MHA, di Jakarta.
Menurut Sampurno, bila digunakan sebagai campuran obat penurun berat badan, penggunaan PPA memang harus ekstra hati-hati. Tapi, kalau digunakan sebagai obat flu dan batuk, PPA cukup aman. Buktinya, Indonesia tidak pernah menerima laporan efek samping
hemorrhagic stroke (perdarahan otak), yang berkaitan dengan penggunaan PPA. Hingga kini, Amerika, Malaysia, dan Singapura telah menarik obat-obatan yang mengandung PPA, sementara Inggris, Jepang, Australia, dan juga Indonesia, tidak menarik obat tersebut dari peredaran.
Ribut-ribut soal keamanan produk obat yang mengandung PPA ini, menurut Dirjen POM, memang telah mengemuka sejak awal November 2000, ketika Badan pengawasan Obat dan Makanan Amerika (US-FDA) meminta pihak industri untuk menghentikan peredaran produk obat yang mengandung PPA, dan mengeluarkan PPA dari komposisi obat dalam waktu tiga bulan. Sebab, hasil studi Yale di Amerika mengaitkan antara terjadinya
hemorrhagic stroke dengan penggunaan PPA, terutama untuk indikasi penekan napsu makan.
Kendati US-FDA telah mengeluarkan himbauan itu, kata Sampurno, tidak berarti Indonesia juga ikut menarik produk obat yang mengandung PPA dari peredaran. Namun, tanggal 5 Desember jajaran POM akan mengadakan pertemuan dengan Komite Nasional Penilai Obat Jadi, untuk melakukan pengkajian ulang formulasi PPA dalam obat flu dan batuk terhadap dosis dan kemungkinan penggantiannya. “Kita akan
meeting bersama para pakar untuk menilai, apakah dilakukan evaluasi terhadap
disease, ataukah untuk penggantian zat aktif,” tutur Sampurno.
Di Indonesia, jelas Sampurno, jumlah produk obat flu dan batuk yang mengandung PPA sebanyak 189 nama dagang, yang diproduksi oleh 79 produsen. Dosis PPA yang diizinkan di Indonesia jauh lebih sedikit dibanding dosis yang diizinkan di Inggris maupun Amerika. Yaitu per takaran 10-25 mg. Pemakaian per hari yang diijinkan maksimal 75 mg untuk orang dewasa dan 37,5 mg untuk anak usia 6-12 tahun dan tidak dianjurkan digunakan untuk anak dibawah usia enam tahun.
Lain dengan di Amerika. Negara Paman Sam itu sebelumnya memperbolehkan PPA digunakan untuk indikasi dekongestan (dosis maksimum 150 mg per hari) dan juga penekan napsu makan (dosis maksimal 75 mg per hari). Tak heran, kini Amerika menarik obat-obatan yang mengandung PPA. Begitu pula dengan Malaysia dan Singapura. Sementara di Australia dan Inggris, yang memiliki sistem pemantauan keamanan obat yang baik, masih mengizinkan peredaran obat yang mengandung PPA. Pasalnya, di dua negara tersebut PPA hanya untuk dekongestan dengan dosis maksimal per hari lebih rendah dibandingkan dengan di Amerika, yaitu 100 mg per hari.
Lebih lanjut Sampurno menegaskan, dalam sebagian besar informasi produk obat yang mengandung PPA telah dicantumkan peringatan sebagai berikut:
- Penggunaan obat tidak boleh melebihi dosis yang dianjurkan dan harus dihentikan penggunaannya jika terjadi jantung berdebar, pusing atau susah tidur.
- Hati-hati penggunaannya pada penderita dengan gangguan fungsi hati dan ginjal.
- Tidak boleh digunakan pada penderita yang hipersensitif, gangguan fungsi hati akut, hipertensi, gangguan jantung, diabetes dan hipertiroid. Juga tidak boleh digunakan oleh mereka yang sedang diterapi dengan obat antidepresan tipe penghambat monoamin oksidase.
Bahkan, Sampurno menganjurkan tindakan terbaik dalam mengatasi flu adalah:
- Beristirahat 2-3 hari dan mengurangi kegiatan fisik berlebihan.
- Meningkatkan gizi makanan akan meningkatkan daya tahan tubuh. Yaitu makanan dengan kalori dan protein tinggi, serta makan buah segar yang banyak mengandung vitamin.
- Banyak minum air, the, sari buah, akan mengurangi rasa kering di tenggorokan, mengencerkan dahak, dan membantu menurunkan demam.
- Sering-sering berkumur dengan air garam untuk mengurangi rasa nyeri di tenggorokan
Lisda Yulianti H